Angka Kematian Jamaah Haji Indonesia Tertinggi Di Dunia

Budi Sylvana
Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes Budi Sylvana meminta calon jamaah haji agar patuh terhadap rekomendasi petugas medis mengenai apa yang direkomendasikan petugas  kesehatan demi keselamatan para calon jamaah haji.

"Saat masa pandemi ini, periksa kesehatan, vaksinasi dan test PCR mutlak diperlukan. Jika tidak sehat, jangan haji dulu. In pandemic, no medical, no hajj. Artinya betapa pentingnya kesehatan saat pelaksanaan ibadah haji," kata Kepala Pusat Kesehatan Haji, Budi Sylvana, Rabu (19/1/2022).

Budi menyampaikan data sebagai informasi, bahwa kematian jamaah haji Indonesia di Arab Saudi terbilang tinggi. Bahkan kasusnya ini meruapakan tertinggi di dunia. 

Menurutnya, berdasarkan data Pusat Kesehatan Haji Kemenkes menunjukkan angka kematian berada pada kisaran 1,8 sampai 2,9 permil.

Pada tahun 2017, tambahnya, mencapai 2,92 permil, pada tahun 2018 mencapai 1,75 permil dan pada 2019 mencapai 1,96 permil.

Budi menegaskan, kelompok risiko tinggi  mendominasi jamaah haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi. Mereka yang wafat mencakup dua hal.

"Yaitu berusia lanjut dan memiliki faktor risiko penyakit jantung, hipertensi, diabetes, dan PPOK," ujarnya.

Menurutnya, jamaah haji lansia dengan penyakit jantung, hipertensi, diabetes, dan PPOK sangat berisiko terhadap perubahan lingkungan dan aktivitas fisik. Untuk itu, aktifitas jamaah juga harus disesuaikan.

"Jangan sampai kelelalahan yang bisa berakibat fatal," katanya.

Budi menegaskan, Pusat Kesehatan Haji terus berupaya untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian melalui upaya pembinaan, pelayanan, dan perlindungan kesehatan sejak di tanah air sampai di tanah suci. 

Khusus di masa pandemi, komposisi tenaga kesehatan yang akan ditugaskan juga disesuaikan dengan kebutuhan pandemi.

"Misalnya satgas khusus surveilance, tim PPI (pencegahan dan pengendalian infeksi)," katanya.

Selain emergency medical team, satgas health promotion, sanitarian dan food security juga dipersipakan. Termasuk juga tim medis dari berbagai disiplin ilmu akan ditempatkan di RS milik Indonesia yang ada di Makkah dan Madinah.

Budi mengatakan, pada masa pandemi ini, ada beberapa prosedur tambahan yang harus dilakukan, seperti vaksinasi covid dan prosedur pemeriksaan PCR. Serangkaian layanan kesehatan ini mutlak diperlukan.

"No medical, no Hajj. Untuk itu kami menghimbau agar jamaah tidak memaksakan diri berangkat haji ketika kesehatannya tidak memungkinkan," katanya. (ihram|ulul)

Subscribe to receive free email updates: