Adanya Jamaah yang Terdeteksi Covid-19, Visa Umroh Ditutup Kembali

Layanan visa umrah kini kembali dihentikan. Hingga akhir tahun, Saudia Arabian Airlines hanya melayani penerbangan dari Jakarta ke Jeddah tiga kali dalam sepekan (Minggu, Selasa, dan Kamis). Penerbangan itu bersifat umum. Artinya, tidak khusus untuk penumpang jamaah umrah.

Kepala Subdirektorat Pemantauan dan Pengawasan Umrah dan Haji Khusus Kementerian Agama (Kemenag) Noer Alya Fitra menuturkan, setelah 8 November, tidak ada jamaah umrah yang berangkat lagi ke Jeddah. Berdasar informasi yang dia terima, tidak ada penerbangan khusus. Dengan kondisi tersebut, merujuk pada protokol umrah Kemenag, calon jamaah umrah boleh membatalkan dan mengambil uangnya.

Dalam tiga penerbangan yang sempat dilakukan, kata dia, jumlah jamaah umrah yang berangkat mencapai 359 orang. Perinciannya, 224 jamaah pada gelombang I (1/11), 89 jamaah gelombang II (3/11), dan 46 jamaah gelombang III (8/11).

Pejabat yang akrab disapa Nafit itu menjelaskan, sebagian besar jamaah umrah yang terbang dalam tiga gelombang tersebut adalah pemilik, pimpinan, atau penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU). ”Namun, ada juga yang benar-benar jamaah,” katanya. Meski begitu, jumlahnya sangat kecil.

Mengacu pada salah satu syarat umrah di tengah pandemi dari pemerintah Saudi, yakni berusia 18–50 tahun, seharusnya ada 26.328 orang yang memenuhi persyaratan. Mereka adalah bagian dari 59.757 calon jamaah umrah yang keberangkatan tertunda akibat pandemi. Namun, hanya 19 orang (0,07 persen) yang berangkat dalam tiga gelombang tadi.

Baca juga: Sejak Dibukanya Kembali Umroh, Sekitar 790 Ribu Jamaah Telah Lakukan Umroh

Ketua Umum Sarikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi) Syam Resfiadi membenarkan, saat ini tidak ada penerbangan umrah lagi. ”Seperti sudah dilarang. Sistem visa (umrah, Red) tidak terbuka lagi,” ujarnya dilansir Jawa Pos.

Di tengah ketidakpastian tersebut, pihaknya kini memilih menunda semua pemberangkatan jamaah umrah sampai persyaratan protokol kesehatan umrah di tengah pandemi Covid-19 oleh Arab Saudi dipermudah. Dia menyoroti aturan karantina dan swab test. Jika ketentuan karantina masih seperti yang berlaku saat ini, ditambah dengan seringnya menjalani uji usap, menurut dia, jamaah umrah bisa stres.

Sebagaimana diketahui, hampir seluruh waktu jamaah saat berada di Makkah habis di kamar hotel saja. Merujuk pengalaman sejumlah jamaah umrah yang berangkat di gelombang pertama, setiba di Jeddah, mereka langsung menuju hotel di Makkah. Kemudian, wajib karantina mandiri selama tiga hari. Baru setelah itu mereka bisa menjalankan umrah.

Sehari sebelum umrah, jamaah menjalani swab test. Yang hasilnya negatif bisa mengikuti ibadah umrah dengan protokol kesehatan yang ketat. Sebaliknya, yang positif Covid-19 harus menjalani isolasi di kamar hotel.

Jamaah yang sudah selesai berumrah harus kembali dikarantina di kamar hotel. Tidak boleh ke Masjidilharam untuk melakukan salat wajib. Meski, jarak dari hotel ke Masjidilharam cukup dekat.

Syam mengungkapkan, ketentuan yang paling merepotkan atau memberatkan jamaah umrah adalah lamanya karantina dan seringnya uji usap. Selain itu, kata dia, jamaah umrah yang sudah berada di Makkah ternyata tidak bisa pergi ke Madinah. Sebagaimana lazimnya paket umrah, jamaah berkunjung ke Madinah untuk ziarah ke makam Nabi Muhammad di Masjid Nabawi.

Syam menjelaskan, jamaah langsung dipulangkan ke tanah air setelah dari Makkah. ”(Jamaah) yang negatif (Covid-19) dipulangkan. Yang positif (Covid-19) masih dikarantina,” jelasnya.

Informasi terbaru dari Kemenag menyebutkan, data sementara jamaah umrah Indonesia yang positif Covid-19 berjumlah 13 orang.

Ketua Umum Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Firman M. Nur menyoroti tidak adanya standard operating procedure (SOP) yang jelas dari Saudi untuk jamaah. Khususnya untuk penanganan jamaah yang dinyatakan positif Covid-19. ”Jamaah yang positif merasa ditinggal. Stres, imunitas turun. (Penyajian) makanannya juga lambat,” ungkapnya.

Tidak adanya SOP yang jelas itu membuat kondisi di lapangan karut-marut. Bahkan, jamaah tidak mendapat informasi jelas siapa yang positif Covid-19. Semua jamaah jadi saling mencurigai. Dia mengusulkan jamaah yang positif dan negatif dipisah di dalam hotel agar penanganannya jelas.

Firman menyatakan, pengelola travel umrah di Indonesia siap bekerja sama dengan Saudi. Misalnya, untuk penyediaan makanan. Dengan begitu, pihak hotel di Arab Saudi tidak kewalahan dan dapat tepat waktu menyajikan makanan.

Secara terpisah, Konsul Jenderal RI Jeddah Eko Hartono mengakui bahwa grup pertama umrah yang berangkat saat pandemi layaknya tim terjun payung. Mereka harus terjun duluan di medan tempur. ”Memang tempatnya sama, tapi banyak perubahan. Di situ yang bikin terkaget-kaget,” paparnya.

Untuk urusan makan, pihaknya mendapat penjelasan dari pihak hotel bahwa kondisi itu terjadi akibat keterbatasan petugas. Mereka menegaskan tidak berniat menelantarkan para jamaah asal Indonesia. Faktanya, ketika makanan diantarkan ke kamar, kebanyakan jamaah tidak merespons. Entah tengah istirahat atau keluar kamar. Karena itu, mereka memutuskan untuk lebih dulu melayani jamaah lain. ”Nah, ketika kembali, karena memang sudah sekian lama dari waktu awal, makanya dibilang nggak diurusi,” jelasnya.

Menurut Eko, pihak hotel maupun pelaksana teknis yang menangani umrah pada masa pandemi ini tidak akan main-main. Nama mereka menjadi taruhan. Bukan hanya di depan jamaah, tetapi juga pemerintah Saudi.

Eko tidak menampik bahwa ada sejumlah perubahan SOP dalam pelaksanaan umrah. Sebelum jamaah umrah pertama datang, Saudi menerbitkan SOP secara jelas. Misalnya, verifikasi hasil tes PCR saat sampai di bandara. Kemudian, jamaah wajib karantina tiga hari. Bila setelahnya hasil swab negatif, jamaah bisa keluar hotel. Yang positif wajib karantina.

Pada rombongan pertama, terdeteksi tiga orang yang positif. Kemudian, saat jamaah yang lain di-swab, jumlahnya bertambah. ”Ada delapan orang yang positif dari kelompok pertama yang tiba 1 November,” ungkapnya.

Kondisi serupa ditemukan di kelompok kedua yang datang pada 3 November. Lima orang positif Covid-19 setelah menjalani swab.

Situasi itu membuat pemerintah Saudi ekstrahati-hati. Sebab, umrah kali ini merupakan uji coba. Jadi, begitu ada jamaah yang positif, mereka waspada dan mengambil tindakan ekstra. SOP pun ikut berubah meski hingga kini yang terbaru belum disampaikan secara tertulis.

Dia mencontohkan, ketentuan paling baru adalah tes swab PCR untuk seluruh jamaah umrah begitu tiba di bandara. Aturan itu diberlakukan sebagai respons ditemukannya jamaah positif. Ada kekhawatiran muncul klaster baru.

Yang hasil swab-nya negatif seperti 46 orang dalam rombongan ketiga langsung dipersilakan umrah. Tidak perlu isolasi tiga hari di hotel. ”Mereka langsung diizinkan umrah dan keluar ke mana saja,” jelas Eko.

Eko menegaskan, saat ini Kementerian Kesehatan Saudi menjadi panglima dalam penyelenggaraan umrah. Bukan lagi Kementerian Haji. Apa pun yang diputuskan Kemenkes, Kemenhaj tunduk dan patuh seutuhnya. ”SOP berubah-ubah karena ini kan masa percobaan. Saudi masih mencari pola yang pas untuk menjamu jamaah umrah internasional,” terangnya.

Namun, bila dirasa paling efektif, pola swab test di awal kedatangan bisa jadi bakal digunakan seterusnya.

Eko memastikan, jamaah umrah yang telah sembuh dan dinyatakan negatif diizinkan melaksanakan ibadah seperti penjelasan pelaksana teknis yang ditunjuk Saudi.

sumber: https://www.jawapos.com/nasional/15/11/2020/menanti-ke-tanah-suci-sabar-menunggu-ibadah-umrah-di-tengah-pandemi/

Subscribe to receive free email updates: