Dasar-dasar Menikah Dalam Islam


BRNews - Menikah adalah salah satu perbuatan yang sangat dianjurkan dalam Islam yang terkait dengan kelangsungan keturunan.
Firman Allah:
Nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berbuat adil, maka nikahilah seorang saja.” (Annisa ayat 4).


Dalam ayat yang lain Allah juga berfirman yang artinya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung merasa tenteram kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kamu kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi mereka yang mau berpikir.” (Ar-Rum ayat 21).
Rasulullah bersabda: “Wahai para pemuda jika kalian telah memiliki kemampuan maka hendaklah menikah. Karena menikah itu dapat memejamkan mata dan  mencegah alat kemaluan. Bagi siapa yang tidka mampu menikah maka hendaklah berouasa, sebab puasa itu merupakan obat.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).
Anas bin Malik berkata: “Rasulullah memerintahkan kami untuk menikah dan beiau melarang membujang. Rasulullah bersabda: Nikahilah wanita yang setia serta menyayangi dan memiliki kemampuan banyak anak. Sesungguhnya aku sangat bangga dengan banyaknya jumlah kalian terhadap umat lain pada hari kiamat.”

Memahami Pernikahan


Dalam arti singkat pernikahan atau perkawinan adalah langkah pasangan laki-laki dan perempuan yang membentuk dan membangun keluarga dengan dasar-dasar agama.
Dalam fikih pernikahan atau perkawinan disebut sebagai: “Perjanjian atau akad ijab dan kabul antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk menghalalkan hubungan badan sebagaimana suami istri yang sah yang mengandung berbagai syarat dan rukun yang ditentukan oleh syariat Islam.”
Dalam bab 1 UU nomor 1 tahun 1974 tentang pernikahan disebutkan: “Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.”
Dengan demikian pernikahan memiliki ciri:
1. Dilakukan oleh laki-laki dan perempuan, bukan laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan.
2. Harus didasarkan serta mematuhi hukum agama.
3. Masing-masing pasangan memahami kebutuhan dan tujuan menikah.
4. Harus juga sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.

Mempersiapkan Pernikahan

Seseorang yang hendak menikah selayaknya memahami dan belajar tentang ilmu yang terkait dengan pernikahan. Karena pernikahan itu juga bernilai ibadah maka juga memiliki syarat dan rukun serta larangan-larangan yang harus disadari pelakunya.
Dalam kaitan ini, pemerintah melalui SK Dirjen Bimas Islam nomor DJ II/542 tahun 2013 membuat pedoman tentang kurus pra-nikah. Meskipun kursus ini tidak mengikat, namun memiliki nilai dan makna yangs angat poentung dalam memberikan bekal pwrkawinan. Sebab, gagalnya perkawinan karena banyak pasangan yang belum banyak memahami peran dan tujuan pernikahan itu.
Kursus pra-nikah diikuti oleh remaja terutana mereka yang tengah mempersiapkan diri menuju perkawinan. Kurus gratis dna menjadi beban dan anggaran negara. Masa kursus terbagi dalam 16 jam dengan mata pelajaran yang dibutuhkan.

Hukum Nikah

Kalangan ulama ahli hukum Islam (fuqaha) menetapkan bahwa hukum menikah itu ada 5.
Pertama, wajib bagi laki-laki yang cukup umur, memiliki penghasilan, serta tidak mampu menahan nafsunya sehingga ditakutkan akan berbuat zina.
Kedua, bagi laki-laki yang memiliki penghasilan namun mampu menahan nafsu sehingga tidak ditakutkan terjermus pada perbuatan zina.
Ketiga, haram bagi laki-laki yang menikah dengan maksud hanya untuk menyakiti istri atau kezalilam yang lain.
Keempat, mubah bagi laki-laki yang belum memiliki penghasilan namun tidak mampu menahan nafsu dan ditakutkan berzina.
Kelima, makruh bagi laki-laki yang belum sanggup memberi nafkah sementara dia mampu menahan nafsu.

Syarat dan Rukun Nikah





Rasulullah bersabda dalam hadis riwayat Imam Ahmad: “Tiada pernikahan kecuali dengan adanya wali dan dua orang saksi.” Dengan demikian rukun dan syarat nikah tercermin: Pertama, ada calon suami. Kedua, ada calon istri. Ketiga, ada wali. Keempat, terjadi ijab kabul. Kelima, ada dua saksi.


Mencatatkan Pernikahan

Pencatatan pernikahan adalah keharusan yang diterapkan oleh negara namun dibenarkan oleh agama karena mengandung unsur kemaslahatan yang besar bagi umat.

Dalam rangka pencatatan itu maka dilakukan prosedur sebagai berikut:
Pertama, calon pengantin berusaha untuk mendapatkan surat keterangan dari kelurahan sekurang-kurangnya 10 hari sebelum akad nikah dilaksanakan.
Kedua, kedua mempelai mendatangi kantor kelurahan untuk mendapatkan surat pengantar.
Ketiga, memperoleh kutipan akta kelahiran dari kantor kelurahan setempat.
Keempat, pernyataan keterangab kedua orangua masing-masing pengantin dari kepala desa.
Kelima, persetujuan kedua calon pengantin.
Keenam, izin tertulis orang tua pengantin jika belum berusia 21 tahun.
Ketujuh, jika tidak ada maka dilakukan keterangan yang dikeluyarkan kantor Pengadilan Agama yang memberi izin menikah bagi pasangan yang masih berusia di bawah 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi wanita.
Kedelapan, surat izin atasan jika caln oengantin adaah anggota TNI atau Polri.
Kesembilan, Putusan oengadilan yang menyatakan izin suami menikah lebih dari satu.
Kesepuluh, kutipan keterangan talak yang dikeluarkan kantor Pengadilan Agama.
Kesebelas, akta kematian suami atau istri dari kepala desa bagi pasangan duda atau janda.
Keduabelas, surat izin menikah dari kantor oerwajilan ngara asing bagi warga negara asing.
Ketigabelas, Petugas Pencatat Nikah (PPN) kemudian memeriksa dan kemudian menikahkannya baik di kantor atau di kediaman mempelai wanita.
Keempatbelas, akad nikah barus dilaksanakan di hadaan Petugas Pencatat Nikah (PPN).
Kelimabelas, akta nikah harus ditandatangani kwdua penganbtib, wali, dua saksi dan PPN.
Keenambelas, akta nikah dibuat rangkap dua yang nmasing-masing disimpan di KUA setempat serta pengadilan. (sumber bp4).